Advertisement
Asuhan Keperawatan (Askep) Dengan SOL (Space Occupying Lesion) - Space Occupying Lesion atau SOL merupakan salah satu penyakit yang menyerang pada bagian otak dengan beberapa gejala yanh menjadi penyebab terjadinya SOL. Space Occupying Lesion ini mungkin masih baru didengar atau diketahui oleh teman-teman perawat. Bahkan dibeberapa rumah sakit kecil masih dijumpai pasien dengan diagnosa SOL atau Space Occupying Lesion. Untuk kejadiannya SOL hampir mirip dengan keluhan yang terjadi pada pasien dengan SLE dan bahkan Stroke

Dan kemarin di rumah sakit kami bekerja, ada pasien masuk IGD dengan keluhan kelemahan pada tubuh sebelah kanan, pandangan mata kabur, pusing dan akral dingin. Pada artikel ini kami akan memberikan penjelasan mengenai Asuhan Keperawatan (Askep) pada pasien dengan SOL (Space Occupying Lesion)



Asuhan Keperawatan (Askep) Space Occupying Lesion

Space Occupying Lesion atau biasa disingkat SOL adalah adanya generalisasi masalah yang terjadi karena adanya lesi pada ruang intracranial yang menyerang atau mengenai otak. Faktor penyebab terjadinya lesi pada otak adalah kontusio serebri, hematoma, infark, abses otak, dan tumor intracranial (Long C, 1996: 130)

Tumor otak sendiri merupakan lesi otak yang terjadi karena adanya desakan ruang baik jinak atau ganas yang tumbuh didalam otak, meningen dan tengkorak (Lombardo, Mary caster 2005: 1183)

Tumor otak merupakan sebuah lesi yang terdapa pada pada intrakranial yang menempati ruang didalam tengkorak (Suzanne C.smaltzer 2001:2167)

Etiologi
Hingga saat ini penyebab tumor belun diketahui secara pasti. Namun beberapa faktor penyebab tumor bisa dibagi menjadi beberapa yaitu:
  • Herediter
    Dalam satu rumah tangga belum ditemukan adanya riwayat untuk tumor otak namun pada penyakit tertentu seperti meningioma, astrositoma dan neurifibroma dapat terjadi dalam satu anggota keluarga. Bahkan pada sklerosis tuberosa dapat terjadi karena faktor keluarga yang merupakan manifistasi klinis pertumbuhan penyakit yang baru
  • Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest)
    Perkembangan embrional yang memiliki morfologi dan fungsi yang terintegrasi dengan fungsi tubuh lama-kelamaan akan menyebabkan sel-sel embrional tersebut menjadi ganad dan merusak organ tubuh yang lainnya
  • Radiasi
    Adanya radiasi akan membuat perubahan dalam sisten saraf yang menyebabkan terjadinya perubahan degenerasi
  • Virus
    Meskipun banyak penelitian tentang virus dalam hubungannya dengan tumor, namun sejauh ini masih belum ditemukan antara keduanya yang menyebabkan terjadinya neoplasma
  • Substansi-substansi Karsinogenik
    Beberapa substansi yang karsinogenik seperti methylcholanthrone, nitroso-ethyl-urea dapat menyebabkan terjadi tumor atau kanker
Manifestasi Klinis SOL (Space Occupying Lesion)
Manifestasi klinis yang tersebar bila tumor otak menyebabkan peningkatan TIK (tekanan intra kranial) serta tanda dan gejala yang mengganggu bagian spesifik dari otak.

Menurut hipotesis Monro - Killie, peningkatan tekanan intra kranial bahwasannya tengkorak merupakan sebuah ruang kaku yang terdapat beberapa materi esensial yang tidak dapat tertekan seperti organ otak, darah vaskuler, dan cairan serebro spinal atau CSS. Jika komponen dalam tengkorak tersebut volumenya meningkat maka TIK akan meningkat atau begitu juga sebaliknya. Jadi perubahan volume otak terganggau bila ada gangguan seperti adanya tumor otak atau edem serebral. Perubahan inilah yang menyebabkan terjadinya gejala peningkatan pada tekanan intra kranial

Gejala – gejala peningkatan TIK di sebabkan oleh tekanan yang berangsur angsur terhadap otak akibat pertumbuhan tumor. Pengaruhnya adalah gangguan keseimbangan yang nyata antara otak , cairan serebro spinal, dan darah serebral semua terletak di dalam tengkorak. Sebagai akibat pertumbuhan tumor, maka kompensasi penyesuaian diri dapat dilakukan melalui penekanan pada vena – vena intra kranial, melalui penurunan volume cairan serebro spinal (melalui peningkatan absorpsi dan menurunkan produksi), penurunan sedang pada aliran darah serebral dan menurunya masa jaringan otak intra seluler dan exstra seluler. Bila kompensasi semua ini gagal, pasien mengalami tanda dan gejala peningkatan TIK.

Gejala – gejala TIK
Gejala yang biasa terjadi akibat adanya tekanan antara lain adalah sakit kepala, muntah, papil edema (choked disc atau edema saraf optik), perubahan kepribadian dan adanya variasi penurunan fokal motorik, sensorik dan disfungsi saraf kranial

Pada kebanyakan kasus, sakit kepala merupakan gejala awal yang dapat ditemukan, meski tidak selalu ada akan tetapi sakit kepala akan bertambah meningkat karena adanya pengaruh dari dalam yaitu batuk dan aktivitas yang berlebihan. Keadaan seperti itu bisa terjadi karena adanya serangan tumor pada otak, tekanan atau penyimpanan struktur, sensitif nyeri atau oleh karena edema yang mengiringi adanya tumor.

Patofisiologi
  • Tumor otak menyebabkan timbulnya ganguan neurologik progresif, gangguan neurologik pada tumor otak biasanya disebabkan oleh dua factor-faktor gangguan fokal akibat tumor dan peningkataan TIK.
  • Gangguan fokal terjadi apabila terdapat penekanan pada jaringan otak, dari infiltrasi atau invasi langsung pada parenkim otak dengan kerusakan jaringan neural. Perubahan suplai darah akibat tekanan tumor yang bertumbuh menyebabkan nekrosis jaringan otak.
  • Peningkatan TIK dapat disebabkan oleh beberapa factor yaitu bertambahnya massa dalam tengkorak, terbentuknya edema sekitar tumor, dan perubahan sirkulasi cairan serebrospinal. Beberepa tumor dapat menyebabkan pendarahan. Obstruksi vena dan edema akibat kerusakan sawar darah otak, semuanya menimbulkan volume intracranial dan TIK.
  • Pada mekanisme kompensasi akan bekerja menurunkan volume darah ntrakranial, volume CSF< kandunan cairan intra sel dan mengurangi sel-sel parenkim. Peningkatan tekanan yang tidak diobati mengakibatkan terjadinya herniasi unkus atau serebelum. Herniasi menekan mensefalon menyebabkan hilangnya kesadaran. Pada herniasi serebelum, tonsil bergeser ke bawah melalui foramen magnum oleh suatu massa posterior. Kompresi medulla oblongata dan henti nafas terjadi dengan cepat, perubahan fisiologis lain yang terjadi akibat peningkatan TIK adalah bradikardia progresif, hipertensi sistemik ( pelebaran nadi) dan gagal nafas. (price Sylvia A.2005: 1187)
Komplikasi
Gangguan fungsi neurologis.
Jika tumor otak menyebabkan fungsi otak mengalami gangguan pada serebelum maka akan menyebabkan pusing, ataksia ( kehilangan keseimbangan ) atau gaya berjalan yang sempoyongan dan kecenderunan jatuh ke sisi yang lesu, otot-otot tidak terkoordinasi dan ristagmus ( gerakan mata berirama tidak disengaja ) biasanya menunjukkan gerakan horizontal
Gangguan kognitif.
Pada tumor otak akan menyebabkan fungsi otak mengalami gangguan sehingga dampaknya kemampuan berfikir, memberikan rasional, termasuk proses mengingat, menilai, orientasi, persepsi dan memerhatikan juga akan menurun.
Gangguan tidur & mood
Tumor otak bisa menyebabkan gangguan pada kelenjar pireal, sehingga hormone melatonin menurun akibatnya akan terjadi resiko sulit tidur, badan malas, depresi, dan penyakit melemahkan system lain dalam tubuh.
Disfungsi seksual
  1. Pada wanita mempunyai kelenjar hipofisis yang mensekresi kuantitas prolaktin yang berlebihan dengan menimbulkan amenurrea atau galaktorea (kelebihan atau aliran spontan susu )
  2. Pada pria dengan prolaktinoma dapat muncul dengan impoteni dan hipogonadisme.
  3. Gejala pada seksualitas biasanya berdampak pada hubungan dan perubahan tingkat kepuasan. ( nurse 87. wordpress.com )
Pemeriksaan Penunjang
  • CT Scan
    Memberi informasi spesifik mengenai jumlah, ukuran, kepadatan, jejas tumor dan meluasnya edema serebral sekunder serta memberi informasi tentang sistem vaskuler.
  • MRI
    Membantu dalam mendeteksi jejas yang kecil dan tumor didalam batang otak dan daerah hiposisis, dimana tulang menggangu dalam gambaran yang menggunakan CT Scan.
  • Biopsi Stereotaktik bantuan komputer (tiga dimensi)
    Dapat mendiagnosa kedudukan tumor yang dalam dan untuk memberi dasar pengobatan serta informasi prognosis.
  • Angiografi
    Memberi gambaran pembuluh darahserebral dan letak tumor.
  • Elektroensefalografi (EEG)
    Mendeteksi gelombang otak abnormal pada daerah yang ditempati tumor dan dapat memungkinkan untuk mengevaluasi lobus temporal pada waktu kejang
Penatalaksanaan
Metode umum untuk penatalaksanaan tumor otak meliputi:
  1. Pembedahan
    • Pembedahan intracranial biasanya dilakukan untuk seluruh tipe kondisi patologi dari otak untuk mengurangi TIK dan mengangkat tumor.
    • Pembedahan ini dilakukan melalui pembukaan tengkorak, yang disebut dengan Craniotomy.
    • Perawatan pre operasi pada pasien yang dilakukan pembedahan intracranial adalah:
      1. Mengkaji keadaan neurologi dan psikologi pasien
      2. Memberi dukungan pasien dan keluarga untuk mengurangi perasaan-perasaan takut yang dialami.
      3. Memberitahu prosedur tindakan yang akan dilakukan untuk meyakinkan pasien dan mengurangi perasaan takut.
      4. Menyiapkan lokasi pembedahan, yaitu: kepala dengan menggunakan shampo antiseptik dan mencukur daerah kepala.
    • Menyiapkan keluarga untuk penampilan pasien yang dilakukan pembedahan, meliputi :
      1. Balutan kepala.
      2. Edema dan ecchymosis yang biasanya terjadi dimuka.
      3. Menurunnya status mental sementara.
    • Perawatan post operasi, meliputi :
      1. Mengkaji status neurologi dan tanda-tanda vital setiap 30 menit untuk 4 - 6 jam pertama setelah pembedahan dan kemudian setiap jam. Jika kondisi stabil pada 24 jam frekuensi pemeriksaan dapat diturunkan setiap 2 samapai 4 jam sekali.
      2. Monitor adanya cardiac aritmia pada pembedahan fossa posterior akibat ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
      3. Monitor intake dan output cairan pasien. Batasi intake cairan sekitar 1.500 cc / hari.
      4. Lakukan latihan ROM untuk semua ekstremitas setiap pergantian dinas.
      5. Pasien dapat dibantu untuk alih posisi, batuk dan napas dalam setiap 2 jam.
      6. Posisi kepala dapat ditinggikan 30 -35 derajat untuk meningkatkan aliran balik dari kepala. Hindari fleksi posisi panggul dan leher.
      7. Cek sesering mungkin balutan kepala dan drainage cairan yang keluar.
      8. Lakukan pemeriksaan laboratorium secara rutin, seperti : pemeriksaan darah lengkap, serum elektroit dan osmolaritas, PT, PTT, analisa gas darah.
      9. Memberikan obat-obatan sebagaimana program, misalnya : antikonvulsi,antasida, atau antihistamin reseptor, kortikosteroid.
      10. Melakukan tindakan pencegahan terhadap komplikasi post operasi.
  2. Radioterapi
    Biasanya merupakan kombinasi dari terapi lainnya tapi tidak jarang pula merupakan therapi tunggal. Adapun efek samping : kerusakan kulit di sekitarnya, kelelahan, nyeri karena inflamasi pada nervus atau otot pectoralis, radang tenggorkan.
  3. Chemoterapi
    Kemoterapi dilakukan dalam berbagai cara, termasuk secara sistemik, intracranial atau dengan memasukkan polimer yang membawa agen kemoterapi secara langsung ke jaringan tumor. Masalah utama dengan komplikasi depresi sum-sum tulang, paru, dan hepar tetap merupakan factor penyulit utama dalam kemoterapi. Sawar darah otak juga mempersulit pemberian agen kemoterapi. Penelitian sawar darah otak dengan manitol hiperosmotik member hasil yang mengecewakan, penelitian mengenai penggunaan dexametason untuk menutup sawar darah otak dan efek obat antiepilepsi pada metabolism obat kemoterapi masih terus dilakukan dan mulai memberikan hasil.
  4. Manipulasi hormonal.
    Biasanya dengan obat golongan tamoxifen untuk tumor yang sudah bermetastase.
  5. Terapi Steroid
    Steroid secara dramatis mengurangi edema sekeliling tumor intrakranial, namun tidak berefek langsung terhada tumor.Pemilihan terapi ditentukan dengan tipe dan letak dari tumor. Suatu kombinasi metode sering dilakukan.
Asuhan Keperawatan (Askep) Dengan SOL (Space Occupying Lesion)
Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal yang dilkukan perawat untuk mendapatkan data yang dibutuhkan sebelum melakukan asuhan keperawatan. Pengkajian pada pasien dapat dilakukan dengan teknik wawancara,pengukuran,dan pemeriksaan fisik.tahap-tahapannya meliputi:
Anamnesa
  1. 1. Identitas klien : usia,jenis kelamin,pendidikan,alamat,pekerjaan,agama,suku bangsa,dll.
  2. 2. Keluhan utama : nyeri kepala .
  3. 3. Riwayat penyakit sekarang :demam,anoreksia dan malaise peningkatan tekanan intrakranial serta gejala nerologik fokal
  4. 4. Riwayat penyakit dahulu : pernah atau tidak menderita infeksi telingga (otitis media mestoiditis) atau infeksi pari-paru (bronkiektasis,abses paru,empiema) jantung (endokarditis) organ pelvis,gigi dan kulit.
Pemeriksaan fisik
Keadaan umum:
Pola fungsional kesehatan.
  1. Aktivitas / istirahat
    Gejala: Malaise
    Tanda: Ataksia,masalah berjalan,kelumpuhan
  2. Sirkulasi
    Gejala: Adanya riwayat kardiopatologi seperti endokarditis
    Tanda: Tekanan darah meningkat
  3. Eliminasi
    Gejala: -
    Tanda: Adanya inkontininsia
  4. Nutrisi
    Gejala: kehilangan nafsu makan
    Tanda:Anoreksia, mual, muntah, turgor kulit jelek, membran mukosa kering.
  5. Hygiene
    Gejala: -
    Tanda: Ketergantungan semua kebutuhan,perawtan diri (pada masa akut).
  6. Neurosensori
    Gejala: sakit kepala, parestesia, timbul kejang, gangguan penglihatan
    Tanda: penurunan status mental dan kesadaran. Kehilangan memori, sulit dalam keputusan, afasia, mata : pupil unisokor (peningkatan TIK), nistagmus, kejang umum lokal.
  7. Nyeri / kenyamanan
    Gejala: sakit kepala mungkin akan diperburuk oleh ketegangan, leher / pungung kaku
    Tanda: tampak terus terjaga, menangis / mengeluh.
  8. Pernapasan
    Gejala: adanya riwayat infeksi sinus atau paru
    Tanda: peningkatan kerja pernapasan (episode awal). Perubahan mental (letargi sampai koma) dan gelisah
Diagnosa Keperawatan
  1. Pola nafas inefektif b/d gangguan fungsi otot pernafasan
  2. Perubahan perfusi jaringan otak b/d kerusakan sirkulasi vaskuler serebral
  3. Nyeri b/d Peningkatan TIK
  4. Kebutuhan nutrisi tidak adekuat b/d anoreksia
  5. Perubahan persepsi sensori visual b/d Penurunan ketajaman penglihatan
Asuhan Keperawatan
Pola nafas inefektif b.d gangguan fungsi otot pernafasan
Tujuan :Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan pola nafas kembali efektif.
Kriteria Hasil: RR normal, Sesak nafas berkurang.
Intervensi
  1. Monitor frekuensi, irama, kedalaman pernafasan.
  2. Posisikan pasien semi fowler untuk memaksimalkan ventilasi.
  3. Berikan instruksi untuk latihan nafas dalam yang efektif.
  4. Kolaborasi pemberian O2 sesuai indikasi.
Rasional :
  1. Untuk mengetahui status pernafasan.
  2. Dengan posisi semi fowler pasien lebih rileks dan penigkatan pengembangan paru.
  3. Mencegah/menurunkan atelektasis.
  4. Untuk mempertahankan kepatenan oksigen.
Perubahan perfusi jaringan otak b.d kerusakan sirkulasi vaskuler serebral
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan kerusakan jaringan cerebral tidak meluas.
Kriteria Hasil: TIK menurun, Jaringan nekrotik cerebral berkurang, Sirkulasi vaskuler cerebral normal
Intervensi
  1. Tentukan faktor – faktor yang berhubungan dengan keadaan tertentu atau yang menyebabkan penurunan perfusi jaringan serebral dan potencial peningkatan TIK.
  2. Pantau /catat status neurologis secara teratur.
  3. Perhatikan adanya gelisah yang meningkat, peningkatan keluhan.
  4. Kolaborasi pemberian obat deuretik contohnya manitol (osmitrol), furosemid (lasix)
Rasional
  1. Penurunan tanda/gejala neurologis atau kegagalan dalam pemulihannya setelah serangan awal mungkin menunjukkan bahwa pasien itu perlu dipindahkan keperawatan intensif untuk mementau TIK atau pembedahan.
  2. Mengkaji adanya kecenderungan pada tingkat kesadaran dan potencial peningkatan TIK bermanfaat dalam menentukan lokasi, perluasan, dan perkembangan kerusakan SSP.
  3. Petunjuk non verbal ini mengidentifikasi adanya peningkatan TIK.
  4. Diuretik dapat digunakan pada fase akut untuk menurunkan TIK.
Nyeri b.d Peningkatan TIK
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan nyeri berkurang/hilang.
Krtiteri Hasil: Pasien rileks, Skala nyeri turun.
Intervensi
  1. Kaji keluhan nyeri, intensitas, karakteristik, lokasi, lamanya, dengan skala 0-10.
  2. Berikan lingkungan yang tenang.
  3. Berikan kompres dingin pada kepala, pakaian dingin diatas mata
  4. Kolaborasi pemberian analgetik seperti asetaminofen, kodein.
Rasional
  1. Untuk memilih intervensi yang cocok dan untuk mengevalusi kefektifan dari terapi yang diberikan.
  2. Menurunkan reaksi terhadap stimulasi dari luar atau sensitivitas pada cahaya dan meningkatkan istirahat/relaksasi.
  3. Meningkatkan vasokontriksi, menumpulkan resepsi sensori yang selanjutnya akan menurunkan nyeri.
  4. Diperlukan untuk menghilangkan nyeri yang berat.
Kebutuhan nutrisi tidak adekuat b/d mual muntah
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam
diharapkan nutrisi pasien terpenuhi.
Kriteria Hasil: Pasien menghabiskan porsi makan, BB bertambah
Intervensi
  1. Awasi masukan, berikan makan sedikit dalam frekuensi sering.
  2. Berikan perawatan mulut sebelum makan.
  3. Anjurkan makan pada posisi duduk tegak.
  4. Kolaborasi pemberian diet tinggi kalori atau protein nabati.
Rasional
  1. Makan banyak sulit untuk mengatur bila pasien anoreksia.
  2. Menghilangkan rasa tak enak dapat meningkatkan nafsu makan.
  3. Menurunkan rasa penuh pada abdomen dan dapat meningkatkan pemasukan.
  4. Makanan suplementasi dapat meningkatkan pemasukan nutrisi.
Perubahan persepsi sensori visual b/d Penurunan ketajaman penglihatan
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan papil edema (-).
Kriteria Hasil: Lapang pandang kembali normal
Intervensi
  1. aKaji perubahan pada penglihatan.
  2. Evaluasi keadaan pupil, catat ukuran, ketajaman, kesamaan antara kiri dan kanan dan reaksinya terhadap cahaya .
  3. Gunakan penerangan siang atau malam hari.
  4. Rujuk pada ahli fisioterapi, terapi okupasi, terapi wicara, dan terapi kognitif.
Rasional
  1. Gangguan penglihatan dapat diakibatkan oleh kerusakan mikroskopik pada otak.
  2. Reaksi pupil didiatur oleh saraf oleh saraf kranial (III) dan berguna untuk menentukan apakah batang otak masih baik
  3. Memberikan perasaan normal tentang pola perubahan waktu dan pola tidur/bangun.
  4. Dapat menciptakan rencana penatalaksanaan terintegrasi yang didasarkan atas kombinasi kemampuan/ketidakmampuan secara individu yang unik dengan berfokus pada peningkatan evaluasi dan fungsi fisik, kognitif, dan ketrampilan perceptual.

Related Posts