Advertisement
IGD Adalah Pintu Masuk Kesembuhan Pasien - Memang bukan hal mutlak ketika seorang pasien masuk ke rumah sakit untuk rawat inap harus melalui IGD (Instalasi Gawat Darurat) atau UGD (Unit Gawat Darurat) karena bisa saja pasien tersebut melalui Poli. Akan tetapi secara umum, pasien rawat inap yang ada di rumah sakit rata-rata melalui IGD. Di IGD pasien di diagnosa sesuai dengan anamnesa yang dihasilkan sehingga pasien tersebut akan diketahui akan rawat inap dibagian apa atau diruangan apa, ruangan yang sesuai dengan penyakit utama atau keluhan utama yang terdapat pada pasien tersebut

IGD adalah pondasi khusus dalam menegakkan diagnosa awal suatu penyakit pada seorang pasien. Dengan ditegakkan diagnosa yang tepat dan benar maka hasil yang diharapkan akan sesuai dengan pemberian terapi atau obat-obatan pada pasien tersebut. Lantas, apakah setiap pasien yang masuk ke rumah sakit melalui IGD HARUS dirawatinapkan semuanya? Tentu saja tidak, misalkan pasien dengan keluhan nyeri pada tangan kanan, tekanan darah normal, hasil laboratorium darah lengkap normal dan pemeriksaan asam urat dan kolesterol cenderung tinggi. Apakah pasien tersebut harus rawat inap? Tentu saja tidak, pasien dengan kasus seperti itu lebih baik disarankan untuk rawat jalan atau pengobatan dirumah dan melakukan kontrol melalui Poli penyakit sesuai dengan keluhan pasien


Untuk itu, anamnesa dan diagnosa suatu penyakit yang disimpulkan oleh dokter IGD harus benar-benar tepat dan benar. Jangan hanya karena semata-mata nyeri, pasien tersebut harus dirawatinapkan. Begitu juga untuk pasien-pasien yang akan benar-benar dirawat inap, harus benar-benar dilakukan pemeriksaan yang tepat dan dilakukan penangan pertama untuk keselamatan dan hidup pasien. Selain tanda-tanda vital, pemeriksaan darah lengkap juga sudah terlampir sebelum pasien tersebut dialihrawat ke ruangan. Ingat, IGD adalah tempat observasi pertama yang sangat penting untuk keselamatan dan hidup pasien. Seberapa parah pasien tersebut jika belum stabil, jangan coba-coba untuk melakukan alih rawat ke ruangan

Dalam beberapa pelatihan, seminar dan workshop yang kami ikuti, para narasumber menyebutkan ada beberapa rumah sakit khususnya dibagian IGD yang masih kurang maksimal dalam melakukan pemeriksaan, pengkajian atau observasi pasien. Sehingga saat pasien dipindah ke ruangan, ternyata tiba-tiba pasien tidak sadar, syok hipovulemik dan apneu

Untuk perawat ruangan, pernah tidak ketika pasien dipindah ke ruangan tiba-tiba pasien tidak sadar, syok, dan apneu!? Tentu teman-teman yang bagian rawat inap pernah mengalami hal seperti itu

Selain melakukan penegakkan diagnosa berdasarkan anemnesa yang yang telah dilakukan, seorang dokter di IGD juga harus melakukan komunikasi kepada keluarga pasien dan pasien tentang hasil anamnesa dan diagnosa penyakit yang ditemukan tersebut sebelum pasien benar-benar dipindah ke ruang rawat inap. Dengan adanya komunikasi kepada keluarga, maka ketika di ruang rawat inap, perawat ruangan akan menanyakan kembali kepada keluarga pasien, apakah sudah dijelaskan atau belum tentang penyakti yang diderita oleh pasien

Memang komunikasi yang disampaikan kepada keluarga atau pasien tidak harus diberikan secara terperinci atau lengkap. Namun penjelasan dasar tentang kondisi pasien, pengobatan yang perlu dilakukan dan tindakan yang mungkin dibutuhkan. Selebihnya dokter IGD memberikan penjelasan tentang kepastian perawatan yang akan dilakukan saat di ruang rawat inip, yaitu dilakukan oleh dokter spesialis dan perawat

Dengan adanya penjelasan atau kie kepada keluarga atau pasien maka keluarga dan pasien akan lebih memahami dengan kondisi pasien dan akan lebih menerima hal-hal yang akan dilakukan setelah pasien berada di ruang rawat inap. Dan tidak ada mis-komunikasi antara pasien dan keluarga pasien dengan perawat atau dokter diruangan (rawat inap)

Related Posts