Pekerjaan Perawat Sama Dengan Kuli Bangunan & Pekerjaan Lainnya, Benarkah? Pernah kan kita mendengar ungkapan seperti itu dibeberapa sosial media bahkan di forum-forum umum? Tentu pernah, apalagi jika ada kejadian yang menimpa profesi kita, teman profesi kita dimanapun saja. Pasti ada ungkapan itu. Benarkah ungkapan itu berlaku seperti itu? Tentu saja tidak benar, jika ada yang mengatakan pekerjaan perawat sama dengan kuli bangunan atau pekerjaan lainnya maka jika dilihat dari satu sisi yaitu dari segi keamanan, itu artinya semua pekerjaan memiliki tingkat resiko yang sama

Padahal dalam kenyataannya tentu saja tidak seperti itu. Pekerjaan perawat tidak sama dengan kuli bangunan. Begitu juga sebaliknya, pekerjaan kuli bangunan tidak sama dengan pekerjaan perawat

Artikel ini bukan membandingkan antara pekerjaan perawat dengan pekerjaan kuli bangunan, artikel ini hanya meluruskan ungkapan yang selama ini. Semua pekerjaan itu mulia, karena setiap pekerjaan pasti memiliki manfaat dan dibutuhkan oleh orang lain. Namun jika ada yang membandingkan suatu pekerjaan dengan pekerjaan lainnya tentu itu kurang tepat dan salah


Setiap pekerjaan memiliki nilai kuantitas dan kualitas tersendiri. Begitu juga dengan pekerjaan perawat, ada nilai kuantitas dan kualitas yang tidak dimiliki oleh pekerjaan lainnya. Nilai kuantitas dari pekerjaan perawat adalah sebelum perawat tersebut menjadi perawat maka dia harus belajar tentang keperawatan yaitu kuliah keperawatan sesuai dengan tingkatan apakah Diploma atau Strata. Selanjutnya sebelum benar-benar lulus dan layak untuk mengaplikasikan atau menerapakan ilmu-ilmu keperawatan untuk masyarakat, maka seorang calon perawat harus mengikuti ujian dan praktek-praktek klinik yang diselengarakan oleh kampus bekerjasama dengan rumah sakit, puskesmas dan desa

Jadi sebelum benar-benar menjadi perawat, seorang calon perawat sudah memiliki pengalaman menghadapi berbagai keluhan yang ada di masyrakat yang mencakup sakit, personal hyegiene, sosial budaya, dan tingkat emosional dalam masyarakat yang akan menjadi tanggungjawabnya kelak setelah bekerja menjadi perawat. Sehingga dari sinilah kenapa perawat lebih banyak memiliki waktu dengan keluarga pasien dan pasien daripada seorang dokter, karena masyarakat dan perawat lebih akrab sebelum mereka saling membutuhkan

Setelah mengikuti ujian dan praktik klinik keperawatan, dan dinyatakan lulus, selanjutnya perawat tersebut masih perlu diuji lagi yaitu dengan uji kompetensi dan memiliki STR (Surat Tanda Regsitrasi). Uji kompetensi ini menentukan apakah seorang perawat sudah benar-benar layak atau tidak untuk mengapilkasikan segala teori keilmuannya kepada masyarakat atau tidak. Jika tidak lulus uji kompetensi maka seorang perawat tidak boleh melakukan tindakan klinis apapun dan tidak bisa memiliki STR serta dokumen penting lainnya seperti KTA (NIRA), SIK, dan SIPP

Jika perawat sudah lulus uji kompetensi dan memiliki dokumen penting seperti KTA, SIK, STR, dan SIPP maka perawat tersebut sudah bisa melakukan tindakan klinis keperawatan dimanapun perawat tersebut berada. Jadi dari segi kuantitas, perawat sudah memiliki kemampuan sesuai dengan ilmu keprofesiannya serta penerapan-penerapan yang telah dilakukan ke masyarakat melalui beberapa praktik keperawatan dan uji keperawatan. Dari semua itu muncullah kualitas seorang perawat

Kualitas seorang perawat tidak akan muncul begitu saja jika dia tidak memiliki bekal untuk mengembangkan ilmu keperawatannya. Kualitas seorang perawat semakin lama semakin meningkat seiring dengan pekerjaan yang dilakukannya dan penambahan bekal ilmu yang didapat dari pelatihan-pelatiah keperawatan serta melanjutkan pendidikan keperawatan ke jenjang yang lebih tinggi. Dari peningkatan kualitas ini, perawat akan semakin mengerti bahwasannya dia akan memiliki tanggung jawab yang lebih besar dalam menerapkan ilmu keperawatannya untuk masyarakat luas yaitu pasien dan keluarga pasien

Jadi semua perawat sudah tentu memiliki kuantitas dan kualitas yang memadai untuk pekerjaannya, meskipun pada masing-masing individu memiliki kuantitas dan kualitas yang berbeda. Namun pada intinya mereka sama-sama memiliki tanggungjawab yang sama yaitu merawat pasien untuk kesembuhan sakit pasien. Baca Apakah Perawat, Dokter & Bidan yang Menyembuhkan Pasien?

Bagaimana dengan pekerjaan kuli bangunan? Kami meyakini, setiap pekerjaan adalah mulia, apapun itu, begitu juga dengan pekerjaan kuli bangunan. Mereka juga memiliki kuantitas dan kualitas yang baik sehingga mereka mampu melakukan pekerjaannya dengan baik. Namun bagaimana awal kuantitas yang mereka miliki sehingga mereka memiliki kaulitas pekerjaan yang baik sebagai kuli bangunan? Apakah mereka melalui ilmu pendidikan tentang kuli bangunan atau tidak? Atau mereka mempelajari dari temannya yang mengajak mereka untuk menjadi kuli bangunan?

Bagaimana jika dilihat dari sisi tanggungjawab dan beban kerja yang dilakukan antara perawat dan kuli bangunan?
Tentu sangat berbeda. Ketika ada keluarga pasien datang ke UGD atau puskesmas yang membawa salah satu keluarganya dalam keadaan kritis, maka perawat bersama dokter dan tenaga kesehatan lainnya dengan segera akan melakukan tindakan pertolongan pertama untuk membantu pasien tersebut. Dan tentunya tindakan yang dilakukan tidak serta bisa langsung menyembuhkan pasien tersebut, sangat konyol jika ada yang beranggapan kalau penangan di suatu rumah sakit tertentu sangat lambat dalam menangani pasien kritis. Dokter dan perawat tidak memiliki ilmu Bimsalabin, dokter dan perawat hanya memiliki ilmu untuk melakukan pertolongan pertama untuk diberikan kepada pasien, baik itu pasien kritis ataupun tidak. Dokter akan langsung berpikir dan bertindak apa yang akan dilakukan, pengobatan apa yang akan diberikan, dan bagaimana respon keluarga terhadap tindakan yang akan dilakukan. Semua butuh proses dalam melakukan tindakan dan memberikan pengobatan

Sedangkan untuk kesembuhan dan kesehatan pasien agar kembali normal bukan tanggung jawab dokter dan perawat. Kami tegaskan, kesembuhan dan kesehatan pasien bukan dokter dan perawat yang melakukan tapi Allah SWT, disini konteksnya yang harus dipegang oleh siapapun, baik dokter, perawat, pasien dan keluarga pasien bahwasannya hanya Allah SWT yang memberikan kesembuhan, kesehatan, bahkan kematian yang terjadi

Dokter dan perawat hanya melakukan tanggungjawab dengan memberikan pelayanan kesehatan yang baik untuk meningkatkan kesehatan dan kesembuhan pada pasien. Pengobatan yang diberikan ke pasien semata-mata hanya perantara dari Allah melalui tangan dokter dan perawat. Jika Allah menghendaki, pasien tersebut bisa sembuh dan bisa tidak

Lantas kenapa ada keluarga pasien yang komplain bahkan mengatakan kalau pelayanan yang diberikan oleh perawat tidak baik sehingga menyebakan pasien meninggal?
Keluarga pasien yang membawa sanak keluarganya ke rumah sakit atau puskesmas tidak dalam keadaan tenang, tidak dalam keadaan bahagia. Mereka panik, mereka butuh pertolongan, mereka butuh dokter dan perawat untuk kesembuhan keluarga mereka. Jadi jangan salahkan mereka ketika mereka ada yang komplain akan tetapi sebelum menyalahkan perawat atau tenaga kesehatan lainnya, lebih baik dilihat dulu apa yang menjadi ketidakpuasan dari keluarga pasien tersebut, pelayanan seperti apa yang dibutuhkan oleh keluarga pasien sehingga mereka tidak merasa puas? Kita lihat dari semua aspek, bukan dari satu arah pada keluarga pasien saja

Apa saja aspek yang perlu ditinjau?
Penyakit dan kondisi pasien, apakah parah atau tidak sehingga keluarga pasien komplain karena tidak ada perkembangan dengan kondisi pasien
Pengobatan, apakah pasien tidak diobati?
Kebutuhan cairan, apakah pasien tidak diinfus? membutuhkan cairan banyak? pasien dehidrasi? perawat lama mengganti cairan infus?
Kebutuhan nutrisi? apakah rumah sakit tidak menyediakan gizi untuk pasien? gizi yang diberikan kurang enak?
Dan sebagainya. Dan semua aspek itu bisa diatasi dengan komunikasi yang baik antara perawat dan keluarga pasien. Dengan komunikasi yang baik, apa yang menjadi kebutuhan pasien bisa terpenuhi dengan baik

Dengan komunikasi yang baik akan memunculkan pemahaman dan pengertian antara petugas kesehatan dan keluarga pasien. Keluarga pasien butuh penjelasan tentang kondisi dan keadaan pasien, sedangkan perawat perlu melakukan tindakan yang nyata yang bisa dilihat oleh keluarga pasien untuk kesembuhan pasien

Lantas bagaimana dengan kuli bangunan?
Seorang kepala keluarga akan mendatangi seorang kuli bangunan untuk membetulkan atap genteng yang bocor. Dengan sedikit arahan dari tuan rumah, maka kuli bangunan tersebut akan membetulkan atap genteng yang bocor, 1 jam atau lebih atap genteng sudah tidak bocor lagi. Pekerjaan selesai, upah langsung diterima oleh kuli bangunan

Jika dicontohkan lagi, bagaimana dengan pasien yang kepalanya bocor? Dalam keadaan kondisi kritis, dokter dan perawat akan berupaya melakukan tindakan operatif untuk mencegah terjadinya perdarahan. Akan tetapi sebelum itu ada beberapa tindakan yang wajib dilakukan juga yaitu bagaimana pernafasan pasien, bagaimana detak jantung pasien, bagaimana kesadaran pasien, bagaimana tekanan darah pasien, dan sebagainya. Jadi, pada pasien kritis, dokter masih perlu melakukan pertimbangan dengan memberikan penjelasan kepada keluarga pasien akan resiko yang terjadi selama dilakukan tindakan

Jadi tidak bisa disamakan antara pekerjaan perawat dengan kuli bangunan atau pekerjaan lainnya. Semua ada perbedaannya dan tidak ada kesamaannya. Terlalu naif jika ada yang menganggap pekerjaan perawat masih sama dengan pekerjaan kuli bangunan. Bagitu juga dari sisi upah, tentu ada perbedaannya

Berbicara masalah upah, pada suatu daerah tertentu, masih perawat dengan upah (gaji) yang sangat rendah dan tidak layak untuk kebutuhan hidup mereka. Bahkan jika dibandingkan dengan gaji seorang kuli bangunan atau buruh, lebih besar mereka dari pada gaji seorang perawat, ironis...

Dibalik itu semua, masih ada yang bilang dan tidak setuju jika gaji perawat terlalu tinggi karena banyak perawat yang bekerja tidak tepat, bekerja seenaknya, bekerja sambil tidur, dan beberapa alasan lainnya yang dirasa benar dinyatakan oleh mereka yang tidak setuju tersebut

Padahal jika dipikirkan secara logis, pekerjaan perawat atau tenaga kesehatan itu sangat dekat dengan nyawa seorang pasien. Salah sedikit, pasien bisa meninggal. Bagaimana dengan pekerjaan yang lain? Kami yakin semuanya bisa berpikir dengan bijak, pekerjaan mana yang memiliki resiko tinggi dan mana yang tidak

Setelah itu ada yang mengatakan, Itulah resiko jadi seorang perawat, ya dihadapi dong...
Memang betul itulah resiko yang harus kami hadapai. Namun ketika ada yang mengatakan seperti itu dan semua orang mengatakan seperti itu sehingga menjadi ketakutan tersendiri dan tidak ada yang mau menjadi perawat, lantas siapa akan memberikan pelayanan kesehatan untuk kebutuhan pasien? Dokter? Perawat membutuhkan dokter dan dokter juga membutuhkan perawat. Selama ini adakah rumah sakit yang memberlakukan dalam 1 ruang rawat inap ada 4 orang dokter dalam 1 shift untuk jaga pagi, sore, dan malam? Masih belum ada, yang ada adalah 4 orang perawat dalam 1 shift untuk jaga pagi, sore, dan malam

Jika berbicara tentang resiko pekerjaan, pekerjaan seorang presiden yang jauh dari nyawa pasien jika mengalami kegagalan dalam memimpin sebuah negara maka resiko maksimal yang dialami presiden tersebut adalah diberhentikan dari jabatannya. Tidak ada resiko yang lebih

Begitu juga resiko pekerjaan seroang kuli bangunan, jika mereka kurang betul dalam membuat bangunan. Maka mereka akan dimarahi dan bangunannya bisa dibetulkan kembali, gaji masih tetap diberikan. Sedangkan perawat dan petugas kesehatan lainnya berhadapan dengan nyawa orang lain dan bahkan nyawanya sendiri dipertaruhkan untuk pasien-pasien dengan penyakit khusus

Jadi melalui artikel ini kami mengajak semua lapisan masyarakat untuk sama-sama saling terbuka dengan komunkasi yang baik dalam menggunakan jasa pelayanan kesehatan yang ada di Indonesia ini. Kami sebagai petugas kesehatan akan selalu mengupgrade kuantitas dan kualitas kami dalam memberikan pelayanan kesehatan. Tidak ada gading yang tak retak, tidak ada manusia yang sempurna dalam melakukan kebaikan dan memberikan pelayanan kesehatan sekalipun manusia adalah makhluk sempurna yang diciptakan Allah SWT, mari kita sama-sama saling menjaga, mari kita sama-sama membantu pemerintah dalam mewujudkan Indonesia Sehat

Mari kita saling menjaga komunikasi yang baik untuk mewujudkan itu semua. Semoga dengan adanya artikel tentang Pekerjaan Perawat Sama Dengan Kuli Bangunan & Pekerjaan Lainnya, Benarkah? ini tidak ada pihak yang merasa tersinggung

Related Posts