Advertisement
Peran Serta Perawat Dalam Pencegahan HIV AIDS - Pertama kali kasus AIDS dilaporkan terjadi pada tahun 1981 di California dan penyebab AIDS ini ditemukan oleh Rpbert Gallo dan Luc Montagner pada akhir tahun 2984. AIDS atau Acquired immunodeficiency syndrome merupakan sindrom penyakit dengan gejalan infkesi oportunistik akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh yang terinfeksi oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Virus AIDS atau HIV ini menyerang sistem kekebalan tubuh manusia

Sedangkan berdasarkan data yang ada di Kementerian Kesehatan, kasus penderita HIV AIDS terus megalami peningkatan setiap tahunnya. Pada akhir tahun 2013, tercatat ada 127.427 kasus HIV dan kasus AIDS sebanyak 52.348, dengan jumlah kematian mencapai 37,8% atau sekitar 1.994 ODHA (Orang Dengan HIV AIDS). Jumlah tertinggi penderita AIDS dialami oleh ibu rumah tangga sebanyak 6.230 jiwa. Sedangkan berdasarakan usia, kasus penderita AIDS terjadi pada kelompok usia 20 - 29 tahun atau sekitar 34.2% dari jumlah total penderita AIDS

Jadi jika dihitung sejak tahun 1987 sampai 2016, ada 198.219 kasus HIV dan kasus AIDS 78.292. Data ini menunjukkan adanya kenaikan kasus AIDS di Indonesia. Dengan adanya data tersebut, ini menunjukkan penyebaran virus HIV AIDS semakin MENGKHAWATIRKAN dan ini bisa menjadi maslah nasional yang harus ditangani dengat tepat yang harus dilakukan oleh semua pihak, mulai dari masyarakat sampai pemerintah


Bagaimana cara menangani penyebaran HIV ADIS secara efektif dan tetap? Untuk mencegah terjadinya penyebaran virus HIV AIDS tentu berbagai upaya harus dilakukan dengan baik yang meliputi promotif, preventif, diagnosis, kuratif, dan rehabilitatif untuk menurunkan angka kesakitan, angka kematian, membatasi penularan, serta penyebaran penyakit agar tidak meluas dari satu orang ke orang lain atau ke daerah lain dan mengurangi dampak negatif yang disebabkan oleh penyakit HIV/AIDS

Untuk itu dalam melakukan pencegaha dan penanganan penyebaran virus HIV AIDS perlu dilakukan secara komprehensif dan berkesinambungan, semua komponen masyarakat, tenaga kesehatan dan pemerintah perlu melakukan secara bersama-sama karena masalah HIV AIDS ini bukan msalah perorangan tapi semua komponen tersebut harus dilibatkan

Bagaimana Cara Melakukan Pencegahan HIV AIDS?
Melakukan promosi kesehatan merupakan salah satu upaya yang sangat baik untuk dilakukan dalam pencegahan penularan penyakit HIV AIDS. Pormosi ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan penularan HIV AIDS dan mengurangi bahkan meniadakan stigma-stigma negatif tentang penderita HIV ADIS sehingga tidak ada deskriminasi dalam kehidupan bermasyarakat

Untuk menetapkan promosi kesehatan, hal terpenting pertama yang harus dilakukan adalah peran serta pemerintah. Karena selama ini pemerintah hanya fokus pada pertumbuhan dan perkembangan dari dampak HIV AIDS yang terjadi dalam masyarakat. Sedangkan kebijakan-kebijakan penting dalam promosi kesehatan untuk HIV AIDS belum sepenuhnya diatur dalam undang-undang. Itu artinya, belum ada dasar hukum yang mengatur secara kuat dan konsisten untuk promosi kesehatan HIV AIDS

Untuk melakukan promosi kesehatan tentang HIV AIDS ini tentu dibutuhkan sumber daya manusia yang mendukung dan salah satunya yang paling tepat adalah tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan meliputi dokter, perawat, dan bidan

Di Indonesia sendiri untuk tenaga ksehatan sebenarnya sudah sangat banyak akan tetapi belum tersebar secara merata sampai ke daerah-daerah terpencil. Mereka lebih memilih untuk fokus diperkotaan dan beberapa daerah dengan akses yang tidak menyulitkan ketika menjalankan tugas. Padahal kebutuhan sumber daya manusia sudah diatur dalam Permenkes No.33 Tahun 2015 tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan Kebutuhan Sumber Daya Manusia Kesehatan. Namun pada kenyataannya masih belum sepenuhnya diterapkan

Dan salah satu tenaga kesehatan yang mengalami perkembangan dengan pesat adalah perawat. Berdasarkan data yang kami dapatkan, pada tahun 2010, perawat di Indonesia sebanyak 160.074 dan pada tahun 2015 meningkat menjadi 223.910 perawat. Bertambahnya jumlah perawat di Indonesia karena banyak minat pada profesi yang satu ini

Dengan banyaknya jumlah perawat yang ada di Indonesia, sebenarnya akan sangat menguntungkan pemerintah dalam melakukan upaya promosi kesehatan, salah satunya tentang HIV ADIS. Akan tetapi pemerintah seakan-akan tidak peduli dengan keberadaan perawat ini, hal ini terbatasnya tindakan yang dilakukan oleh seorang perawat. Profesi ini hanya sebatas merawat pasien, tidak lebih. Melakukan tindakan medis tertentu juga dibatasi. Padahal, seorang perawat pada kenyataannya lebih banyak berinteraksi dengan masyarakat, dengan keluarga pasien dan dengan pasien itu sendiri

Itulah kenapa, ketika ada tindakan keperawatan yang sebenarnya termasuk dalam tindakan medis, jika ada keluarga pasien yang tidak puas dengan pelayanan kesehatan dalam suatu rumah sakit atau puskemas, maka perawat lah orang pertama yang harus bertanggungjawab dengan kejadian tersebut. Ironis

Kembali pada topik pembahasan artikel ini, dengan banyaknya jumlah perawat yang tersebar diseluruh Indonesia. Pemerintah seharusnya mengambil tindakan konkrit untuk lebih mengedepankan peran serta perawat dalam mewujudkan perkembangan kesehatan dalam masyarakat. Memberikan bimbingan, pelatihan dan keterampilan secara optimal agar para perawat memiliki bekal yang lebih baik dalam memberikan pelayanan kesehatan untuk masyarkat. Meski saat ini sudah banyak perawat dengan titel strata 1 (S1) dan memiliki pengalaman kerja dengan kemampuan yang baik. Namun belum tentu dalam melakukan tindakan keperawatan, mereka belum sepenuhnya diperhatikan oleh pemerintah

Karena ketika ada kesalahan sedikti seperti miskomunikasi dengan keluarga pasien maka perawat sudah dijatuhi kesalahan besar dan ujung-ujungnya dilakukan tindakan dengan memindahkan perawat ke tempat kerja yang lain. Padahal jika dilihat dari latar belakang, perawat tersebut sangat dekat dengan masyarakat namun karena adanya oknum tertentu bisa menyebakan perawat menjadi serba salah. Misalnya seperti itu

Akan tetapi kenyataannya memang seperti itu, tenaga kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat adalah perawat. Dalam 24 jam penuh, perawat hampir selalu berinteraksi dengan masyarakat, dengan keluarga pasien, baik itu di rumah, di rumah sakit ataupun di puskesmas. Hubungan antara perawat dengan masyarakat ini tidak hanya terjalin secara fisik saja. Akan tetapi juga terjalin secara emosional

Untuk itulah, kedekatan dan hubungan yang terjalin antara perawat dan masyarakat ini sangat bisa dimanfaatkan dalam memberikan promosi kesehatan untuk masyarakat, memberikan edukasi tentang pencegahan HIV AIDS dan beberapa pelayanan kesehatan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat bisa dilakukan oleh perawat baik itu secara langsung atau pun tidak langsung

Peran serta perawat dalam melakukan promosi kesehatan untuk pencegahan HIV AIDS sudah saatnya mendapatkan dukungan dari pemerintah langsung. Dan tentunya dalam kerja sama ini, pemerintah juga perlu melakukan beberapa hal yang sekiranya tidak merugikan perawat secara langsung. Karena memberikan dan mengajak orang untuk berbicara penyakit HIV AIDS adalah sangat, sangat privasi dan dibutuhkan pendekatan yang sangat intens

Dalam beberapa kasus, masih ada beberapa keluarga penderita HIV AIDS yang enggan untuk membicarakan penyakit yang diderita oleh salah satu keluarganya tersebut. Banyak alasan kenapa mereka menjadi tertutup ketika membicarakan penyakit HIV AIDS. Untuk itu, melalui peran serta perawat dalam pencegahan HIV AIDS dengan dukungan pemerintah akan memberikan solusi yang maksimal dalam melakukan promotif dan preventif untuk pencegahan penyakit HIV ADIS

Beberapa Dukungan Pemerintah Untuk Perawat Dalam Melakukan Promosi & Preventif Pencegahan HIV AIDS di Masyarakat yaitu:
  • Adanya dasar hukum yang kuat agar perawat bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Sehingga tidak ada rasa takut ketika memberikan pelayanan kesehatan terkait HIV AIDS
  • Mengadakan pendidikan atau pelatihan khusus untuk HIV ADIS. Dengan adanya pendidikan dan pelatihan khusus ini akan membuat perawat lebih mudah dalam memberikan pelayanan, penyuluhan, dan bahkan menjadi konsultan penderita HIV AIDS
  • Memberikan tunjangan khusus dalam memberikan pelayanan kesehatan dan kegiatan promosi pencegahan HIV AIDS. Dalam kegiatan ini, bukan semata-mata tujuan mareti dalam bentuk uang yang dicari. Akan tetapi, melakukan penyuluhan terhadap penderita HIV AIDS memiliki resiko sangat tinggi daripada seorang anggota dewan DPR yang bepergian kepelosok untuk meninjau hasil kerja suatu daerah. Ketika dalam suatu masyarakat ada penderita HIV AIDS maka orang tersebut secara tidak langsung akan dikucilkan. Dari sinilah, kedekatan seorang perawan dengan masyarakat yang sudah terjalin bisa menjadi jembatan emas akan pentingnya memberikan kesadaran kepada masyarakat dan penderita HIV AIDS tentang penyakit HIV AIDS itu sendiri
Untuk itulah peran serta perawat dalam pencegahan HIV AIDS sangat dibutuhkan kedepannya, hal ini untuk menyongsong Indonesia Bebas HIV ADIS Tahun 2030. Semoga

Related Posts

yuks Like fanpage kami...
Agar Lebih Bermanfaat..