Advertisement
Ayo Dukung Pengangkatan Perawat Honorer Menjadi CPNS Melalui RUU ASN - Pro Kontra pengangkatan perawat PTT, Honorer, Tenaga Kontrak atau pegawai tetap non PNS untuk menjadi PNS (pegawai Negeri Sipil) sampai saat ini masih terjadi. Masih banyak yang belum setuju jika semua perawat diangkat menjadi PNS. Banyak alasan yang mereka sampaikan kenapa perawat tidak boleh diangkat menjadi PNS


Dari beberapa media sosial yang paling banyak menjadi sumber informasi, salah satu alasan klasik kenapa perawat tidak boleh diangkat menjadi PNS karena kinerja perawat masih tidak baik. Masih banyak yang lalai dalam pekerjaan. Masih tertidur dalam bekerja. Bahkan ada yang mengatakan perawat tidak memiliki kewenangan apapun dalam tindakan medis kepada pasien. Kenapa perawat selalu dianggap bersalah ketika melakukan kesalahan dalam bekerja? Karena pekerjaan perawat berhubungan dengan rasa sakit dan sehat, berhubungan dengan nyawa. Salah sedikit, misalkan pasien sakit karena terpasang infus maka keluarga pasien bisa melakukan komplain

Bukan karena pekerjaan perawat berada dalam kategori Pelayanan Sosial, akan tetapi fokus utama pekerjaan perawat adalah memberikan rasa nyaman dari sakit dan memberikan perawatan dengan tujuan untuk kesembuhan pasien

Kalau berbicara dalam kategori Pelayanan Sosial, maka seorang Presiden dan bawahannya, MPR, DPR, Gubernur, Walikota, Bupati, Kepala Desa, Lurah dan bawahannya adalah seseorang yang bekerja untuk melayani masyarakat. Ketika Presiden dan bawahannya, MPR, DPR, Gubernur, Walikota, Bupati, Kepala Desa, Lurah dan bawahannya tidak baik dalam bekerja maka masyarakat tidak akan bersikeras melakukan tuntutan atau komplain

Misalkan ada keluarga pasien sedang mengurus persayaratan jaminan kesehatan keterangan tidak mampu atau SKTM, saat mengurus SKTM ternyata Kepala Desa tidak ada pada hari itu juga dan adanya besok harinya. Padahal, SKTM tersebut sangat dibutuhkan oleh keluarga pasien. Bagaimana tanggapan keluarga pasien dengan tidak adanya kepala desa tersebut yang tidak bisa menandatangi surat keterangan yang dibutuhkan oleh keluarga pasien? Jelas mereka akan menjawab, Kepala desa adanya besok pagi, jadi persyaratannya bisa lengkap besok

Bagaimana jika perawat tidak ada di ruang rawat inap? Bisa diamuk sama pak wali kota kalau seperti itu :)

Jadi meski sama-sama dalam kategori memberi pelayanan bagi masyarakat, namum konteksnya sangat berbeda, isinya sangat berbeda. Maka ketika ada anggapan kerja perawat itu sama dengan yang lainnya. Jelas itu tidak benar

Atau contoh lainnya dalam sebuah sekolah. Ketika di sekolah, murid adalah tanggungjawabnya guru, pintar tidaknya seorang murid tergantung bagaimana seorang memberikan pelajaran dan bimbimngan yang kepada murid. Namun tidak 100% seorang guru bisa membuat seorang murid menjadi pintar, tergantung kemauan dari murid itu sendiri mau belajar atau tidak. Nah, ketika murid tidak pintar padahal sudah diajari ini dan itu, sudah ikut les private, namu murid tetap belum pintar-pintar. Apakah keluarga murid tersebut memarahi gurunya? Tentu saja tidak

Bagaimana jika ada seorang pasien rawat inap yang merasa kesakitan? Siapa yang pertama didatangi oleh keluarga pasien tersebut? Betul, perawat. Bagaimana jika pasien itu masih merasa kesakitan? Siapa yang diomeli oleh keluarga pasien? Betul, perawat. Padahal yang membuat sakit dan sehat itu bukan lah perawat, perawat adalah orang yang mengasuh dan merawat orang lain yang mengalami masalah kesehatan

Itulah contoh kecil yang seharusnya bisa dipahami oleh semua mayarakat bahwasannya pekerjaan perawat itu tidak sama dengan pekerjaan yang lainnya. Dan ketika kami mengharap adanya suatu keadilan dalam profesi kami, seharusnya ada dukungan terhadap apa yang menjadi harapan kami. Bukan malah dicemooh atau dicibir dengan beberapa alasan yang telah kami sampaikan diatas

Dengan adanya artikel ini, bukannya kami mengharap belas-kasihan akan tetapi jika dilihat dari kinerja para anggota DPR, mereka dalam setiap melakukan pekerjaan selalu ada tunjangannya. Bukannya kami iri dengan para buruh yang setiap demo selalu menghasilkan kesepakan mengenai upah minimal yang mereka terima dan kami bukannya menyombongkan diri kalau semua orang butuh tenaga kami ketika mereka sakit, tidak, bukan itu... Kami hanya butuh apa yang menjadi hak kami

Dan salahkah kami jika kami menuntut pengkuan kerja yang lebih baik? Dari perawat tenaga honorer, PTT, menjadi perawat dengan status PNS atau Pegawai Negeri Sipil?

Padahal dari sejumlah puluhan ribu perawat honorer, sudah ada yang bekerja lebih dari 10 tahun, memiliki upah (gaji) dibawah minimun, memiliki keluarga, memiliki anak yang menjadi penerus kami kelak, memiliki anak yang sudah sekolah, menjaga orang tua dalam segala keterbatas kami dan menjadi ironis ketika sebagian dari kami sudah berusia diatas 35 tahun yang katanya sudah tidak layak untuk menjadi seorang PNS, dan berhenti bekerja tanpa ada perhatian dari pemerintah dan akhirnya sebagian masyarakat sekitar kami merasa iba dan kasihan karena ternyata kehidupan kami hanya seperti, tanpa ada apa-apa di hari tua. Padahal dalam bekerja kami juga banyak membuat keluarga pasien tersenyum dan selalu menyapa kami dengan hangat...

Untuk itulah kenapa beberapa waktu yang lalu profesi kami melakukan aksi tuntutan kepada pemerintah kami saat ini pemerintah ini sepertinya tidak memperhatikan kami, sepertinya tidak butuh peran serta kami dalam mewujudkan kesehatan masyarakat, hal ini terlihat dengan jelas ketika tenaga kesehatan lainnya seperti dokter, dokter gigi dan bidan dengan nyata dan pasti diangkat menjadi PNS atau ASN (Apatus Sipil Negara). Padahal sebagian besar mereka baru saja menjadi mengabdi, kenapa mereka diperhatikan sedemikain rupa? Ternyata pemerintah sudah tidak adil, khususnya Menteri Kesehatan dan Presiden, karena mereka lah yang seharusnya mengetahui semua permasalahan ini

Dengan adanya ketidak-adilan tersebut, profesi organisasi kami yaitu PPNI pun bergerak menuntut keadilan melalui berbagai upaya agar perawat honorer aau PTT diangkat menjadi CPNS melalui revisi UU ASN atau dengan cara apapun. Salah satu upaya yang mulai terlihat hasilnya adalah melakukan pertemuan dengan Komisi II DPR RI. Dalam pertemuan tersebut akhirnya ada kesepakatan bahwasannya Komisi II DPR RI mendukung dan memperjuangkan status perawat honorer yang telah lama mengabdi diangkat menjadi CPNS. Hal seperti yang diungkapan Anggota Komisi II DPR RI F-PDIP, Arteria Dahlan "tentunya kami akan berjuang dengan sehebat-hebatnya, sehormat-hormatnya untuk memastikan keinginan dan cita-cita perjuangan mereka (perawat honorer), mereka ngak minta apa-apa, mereka cuman minta bahwa mereka itu dijadikan patriot, ada labelnya yakni Aparatur Sipil Negara"

Begitu juga dari Anggota Komisi II DPR RI F-PAN, Haeruddin mengatakan "para perawat inilah para pejuang kesehatan masyrakat di Indonesia yang nasibnya di desa-desa jauh dari perkotaan, yang kita sendiri tahu betul bagaiamana perjuangan mereka menghadapi masyarakat, atas dasar rasa keadilan itu tentu komisi II insya Allah akan memperjuangkan nasib perawat"

Dari DPD RI sendiri juga mendapatkan dukungan dari senator senior yaitu AM Fatwa. AM Fatwa sangat mendukung pengangkatan perawat honorer (kesehatan) untuk diangkat menjadi CPNS dengan pertimbangan masa pengabdian lebih dari 5 tahun. Hal ini disampaikan melalui surat resmi anggota DPD RI AM Fatwa yang ditujukan kepada Menteri PAN & RB seperti yang terlihat pada gambar dibawa ini:


Semoga dengan adanya dukungan dari para legislatif dan senator ini dapat menjadi masukan kepada pemerintah dan kementerian kesehatan untuk dapat mengangkat perawat honorer menjadi CPNS. Untuk teman-teman semua Ayo Dukung Pengangkatan Perawat PTT, Honorer Menjadi CPNS Melalui RUU ASN dengan menyebarkan artikel ini agar pemerintah terbuka hati untuk masa depan kita, masa depan perawat Indonesia

Related Posts

yuks Like fanpage kami...
Agar Lebih Bermanfaat..