Beberapa waktu yang lalu terjadi peristiwa yang membuat nama profesi kita menjadi kurang disenangi oleh beberapa kalangan karena adanya teman perawat yang dituduh telah melakukan tindakan yang tidak terpuji terhadap seorang pasien wanita disebuah rumah sakit di Surabaya. Meski kasus tersebut telah ditangani oleh pihak berwajib dan adanya pelimpahan dari rumah sakit dan pihak keluarga korban untuk melakukan penahan serta adanya barang bukti yang dimiliki oleh keluarga korban berupa video terhadap perawat tersebut, tidak demikian Persatuan Perawat dan Kesehatan lainnya tetap melakukan evaluasi dan mengkaji kejadian tersebut. Dan fakta dilapangan memberikan hasil yang berbeda dengan beberapa informasi yang telah menyebarluas di masyarakat.

Siaran Berita PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) dan Forum Stovia JogLoSemar

28 Januari 2018

Meluruskan Tuduhan Pelecehan oleh Perawat di National Hospital Surabaya

PPNI dan Forum Stovia JogLoSemar menyatakan prihatin atas beredarnya rekaman video pada tanggal 25 Januari 2018 dengan pengambilan gambar di RS oleh keluarga Pasien dan di unggah oleh pasien itu sendiri diakun Instagram yang berisi kemarahan pasien kepada seorang perawat yang di tuduh melakukan pelecehan seksual di ruang pemulihan pasca operasi pada tanggal 23 Januari 2018 pukul 11:30 – 12:00.

Video viral tersebut telah mengiring opini masyarakat dan menimbulkan dampak ketidak nyamanan pelayanan medis di RS lainnya yang di sebabkan pasien menjadi takut mendapatkan perlakuan yang sama ketika dalam keadaan tidak sadar atau setengah sadar dengan berbagai respon yang membuat tergangunya Patien Safety.


RS adalah tempat yang steril dari perekaman baik suara maupun video berdasarkan UU No. 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran pasal 48 dan pasal 51. Juga berdasarkan Undang Undang No 36 tahun 1999 Pasal 40 tentang Telekomunikasi.

Potongan Video 58 detik yang beredar viral merupakan potongan 20 menit rekaman, telah dilakukan pengeditan, sehingga perawat tersangka di kondisikan mengakui perbuatan nya dan video itu dijadikan barang bukti di Polisi, dan akibat barang bukti ini tersangka DITAHAN di Polrestabes Surabaya Utara.

Apa yang di tuduhkan oleh Pasien Ny. W tidak benar, tersangka tidak melakukan apa yang di tuduhkan dan yang di lakukan hanya melepas sadapan disposible ECG Electrode yang menempel di sekitar dada pasien, jumlah sadapan electrode sebanyak 6 buah, 3 buah memang menempel di sekitar dekat papilla mamae (V3, V4, V5) dan pasien Ny. W dalam kondisi post operasi dimana masih ada pengaruh dari obat bius.

Perawat yang di tuduh pada dasarnya hanya menjalankan tugasnya sesuai dengan standard pelayanan operasional medis dan tidak melakukan hal di luar itu. Maka penahanan nya berdasarkan barang bukti hasil editan merupakan bentuk ketidak-adilan.

Polisi tetap harus memegang teguh praduga tidak bersalah, dan menerima laporan harus memastikan barang bukti bukan sebuah rekayasa, utuh tanpa editan, agar konflik konflik yang ada di masyarakat dapat di selesaikan dengan adil.

Masyarakat agar tidak mudah terprovokasi dengan postingan postingan  dan memviralkan yang video belum jelas yang menyebabkan keresahan.

Peristiwa ini harus menjadi pelajaran bersama bagaimana bangsa ini seyogyanya tidak boleh di ombang ambing dengan postingan yang akhirnya mengarah kesebuah opini yang salah.  

Nara Hubung
Harif Fadillah, Skep.,SH., MKep
Ketum PPNI
081284200424

DR. Dr. Budiman SH., MS.,MHum
Forum STOVIA JogLoSemar
08122703036

Dr. Hadiwijaya MPH., MHKes
081310101003

Buat teman-teman sejawat mohon bantu disharekan artikel ini sebagai dukungan moril kita, jangan pernah merasa takut untuk sebuah kebenaran dari setiap proses tindakan keperawatan yang kita lakukan. Sudah saatnya semua Profesi Kesehatan bersatu padu

Related Posts