Ketika Perawat Melakukan Kesalahan Sekecil Apapun - Beberapa hari belakangan ini, profesi perawat sedang dalam sorotan, profesi yang katanya banyak orang adalah profesi mulia namun sejuta cela dan caci maki menjadi terdepan yang dilontarkan kepadanya, yang disampaikan dan yang ditulis di beberapa media sosial media ketika satu masalah terjadi pada perawat. Semuanya membenci perawat, semuanya ikut-ikutan menyalahkan perawat, bahkan yang tidak pernah dirawat atau yang tidak kenal perawat sekalipun ikut-ikutan membenci perawat. Bukan pada satu perawat yang berbuat salah, akan tetapi semua beranggapan kalau semua perawat itu menjadi buruk dimata mereka yang hanya bisa menilai dari satu kesalahan. Bukan hanya dari kalangan orang-orang yang memang tidak senang dengan perawat atau orang-orang yang ikut-ikutan membenci perawat, dari kalangan pejabat pun juga ikut-ikutan tidak senang dengan perawat jika ada masalah yang seharusnya masih bisa dimusyawarahkan secara baik-baik.


Membenci suatu profesi bukanlah cara yang tepat dalam mengatasi sebuah masalah, begitu juga ketika ada yang membenci profesi perawat karena tindakan atau kelalaian mereka dalam menjalankan tugas. Bagaimana jika seorang presiden, seorang gubernur, dan seorang bupati melakukan kesalahan dengan tidak menepati janjinya untuk mengentaskan kemiskinan, untuk membuka lowongan pekerjaan dan janji manis lainnya? Itu JANJI loh dan janji harusnya ditepati... Apakah rakyat dari presiden, gubernur atau bupati tersebut dituntut oleh rakyatnya saat rakyatnya kesusahan?

Begitu juga dengan seorang anak yang sekolah di suatu sekolahan, orang tuanya sangat berharap jika anaknya bersekolah akan menjadi pintar. Namun apa yang terjadi? Anak tersebut sering tidak naik kelas, nilainya selalu dibawah rata-rata. Apakah orang tua dari sang anak tersebut menuntut gurunya atau sekolahannya karena anaknya tidak pintar?

Bagaimana jika ada seseorang yang sakit dengan keluhan nyeri kepala dan kejang yang sakitnya sudah beberapa hari dan masuk ke UGD, dan dirawat inap. Namun apa yang terjadi, setelah diobati beberapa oleh dokter spesialis yang dibantu oleh perawat dalam memberikan terapi dokter tersebut, ternyata sakit dan keluhan orang tersebut (pasien) masih belum sembuh-sembuh dan malah tambah parah. Apa yang terjadi? Perawat dan dokter akan di cari oleh keluarga pasien tersebut, kenapa sakitnya belum sembuh? Kenapa sakitnya bertambah parah? Gimana pelayanan rumah sakit ini? dan sebagainya sampai keluhan tersebut disebarkan ke sosial media.

Masalah kecil di instansi kesehatan akan menjadi besar, jika keluhan sakit pasien tidak sembuh-sembuh. Berbeda jika ada keluhan dari seorang rakyat yang kekurangan, berbeda dengan seorang anak yang tidak pintar. Perawat dan dokter akan menjadi sorotan biang dari tidak-sembuhnya sakit yang diderita oleh pasien...

Padahal yang membuat sakit bukanlah dokter atau perawat, yang menyembuhkan sakit juga bukan dokter atau perawat. Akan tetapi yang semuanya adalah usaha bersama, usaha dari keluarga pasien yang telah membawa keluarga yang sakit untuk mendapatkan pengobatan, usaha dokter dalam memberikan terapi atau obat yang sesuai dengan sakit dan keluhan pasien dan usaha perawat melaksanakan tindakan keperawatan dan pemberian terapi dari dokter untuk diberikan ke pasien. Selebihnya adalah doa dan kehendak Yang Maha Kuasa...

Ketika Perawat Melakukan Kesalahan Sekecil Apapun...
Namun semua itu tidak berlaku ketika kesalahan dan kelalaian sekecil apapun menimpa perawat, semuanya berubah, perawat salah! Semuanya menyalahkan perawat, seperti yang telah disebutkan diatas, semua menyudutkan perawat, seakan-akan perawat adalah manusia pendosa yang tidak patut dimaafkan. Apalagi kesalahan tersebut menyebar di sosial media, ibarat gunung meletus, semuanya kepanasan dan ikut-ikut memanasi suasana. Adakah yang peduli perawat, untuk beberapa hari mungkin tidak ada, mereka masih asyik menyalahkan perawat.

Bagi yang sering menyalahkan perawat atau di media sosial yang sering membully perawat, apakah kalian benar-benar tahu apa pekerjaan perawat?
Jika kalian masih beranggapan perawat adalah pembantu, memandikan pasien, perawat yang membersihkan pub atau air kencing, muntahan, merawat luka, dan memberikan gizi, itu semua betul, betul sekali namun semua itu berlaku beberapa tahun yang silam. Sekarang sudah ada perbedaan dalam pemberian perawatan kepada pasien. Misalnya membersihkan pub atau membersihkan area vital pasien, sudah ada SOP yang menjelaskan. Salah satunya adalah Kesediaan pasien untuk dilakukan tindakan tersebut, jika tidak bersedia maka keluarga lah yang selanjutnya membantu membersihkan yang sebelumnya diajari oleh perawat. Sehingga dalam hal ini, tindakan mandiri keluarga sangat membantu kenyamanan pasien selama dirawat. Namun apa yang terjadi? Terkadang keluarga pasien sendiri tidak mau membersihkan atau merawat keadaan pasien.

Namun sekarang perawat tidak hanya membersihkan dan merawat pasien, tapi juga melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan oleh dokter yaitu melakukan injeksi atau suntik. Dokter yang menulis terapi obat, perawat yang memasukkan atau menyuntikkan obat ke pasien. Apakah perawat adalah pembantu pasien? Bukan, perlu anda ketahui, perawat bukan pembantu dokter, kami bekerja sama, berkolaborasi dalam melakukan dan memberikan pelayanan kesehatan ke pasien. Menyuntik obat ke pasien yang dilakukan perawat juga sudah ada SOP dan pemberian wewenang dari dokter ke perawat. Seandainya, Seandainya perawat menolak wewenang tersebut, siapa yang akan menyuntik pasien rawat inap atau rawat jalan yang banyak itu? Siapa yang akan memberikan obat minum ke pasien? Dan siapa yang akan menjaga pasien setiap malam jika ada keluhan nyeri kepala? Dan juga apakah mau dokter melakukan shift dinas setiap waktu pagi, sore dan malam seperti perawat di ruang jaga, kecuali di IGD dan ruang-ruang tertentu.

Kecuali di ruang-ruang tertentu seperti IGD dan ruang intensif, pernahkan anda melihat di ruang rawat inap atau di bangsal ada 3 - 4 dokter yang shift bergantian setiap pagi, sore dan malam? Yang ada adalah perawat yang jaga. Untuk itulah, perawat selalu dituntut siaga dan terjaga, ketika ada apa-apa dengan pasien, perawat yang selalu bergerak terlebih dulu dalam memberikan pertolongan. Bahkan selama 24 jam perawat selalu ada untuk pasien dan keluarga pasien.

Tugas perawat sebenarnya sama beratnya dengan dokter, namun perlakuan diterima oleh perawat sangat berbeda jauh. Banyak yang beranggapan perawat adalah biang kesalahan. Miris... Seandainya perawat tidak ada di Indonesia ini. Siapa yang akan melayani pasien-pasien yang rawat inap jika mereka mengeluh kesakitan? Siapa yang akan memasang infus jika infus terlepas? Siapa yang akan membersihkan pasien jika keluarganya tidak mau?

Memang tidak akan ada habisnya jika membahas permasalahan yang dialami pasien dan keluarga pasien saat di rawat inap, apapun itu masalahnya, bahkan ketika perawat tidur pun akan menjadi sorotan dan dihujat. Tidak hanya dari orang luar rumah sakit atau puskesmas, dari dalam rumah sakit pun akan seperti itu, perawat disalahkan. Apakah perawat tidak boleh tidur saat shift malam? Jika perawat tidak boleh tidur, tentunya banyak yang bisa berfikir kalau beban pekerjaan perawat itu sangat besar. Namun ketika perawat berfikir untuk menuntut kenaikan upah, apa yang terjadi? Malah hujatan dan cemoohan yang didapat. Bahkan ada yang mengatakan, kalau tidak ingin memikul kerjaan dengan tanggungjawab yang besar, jangan jadi perawat. Nah, kalau tidak ada perawat siapa yang mau merawat pasien?

Untuk itu, sebagai seorang perawat melalui tulisan ini, marilah kita bekerja sama secara baik. Keluarga pasien, pasien, dokter dan perawat adalah satu rangkaian yang saling membutuhkan, bukan saling menyalahkan. Kerja sama antara keluarga pasien dan pasien dengan dokter dan perawat sangat dibutuhkan untuk mewujudkan kesehatan yang baik. Jika ada masalah, mari bicarakan baik-baik, bukan langsung menyelesaikan melalui sosial media. Bukan hanya tenaga kesehatan yang di cap buruk ketika masalah sudah ada di sosial media, tapi yang bersangkutan juga akan memiliki dampak yang sama.

Ketika ada keluarga kita sakit, bukan serta merta menyalahkan dokter atau perawat karena sakit yang di derita tidak sembuh, semua itu adalah cobaan dan ujian yang pasti menimpa setiap manusia, usaha, beribadah dan berdoa adalah satu-satunya jalan terbaik yang harus kita lakukan. Ketika sakit belum sembuh, bukan kesalahan siapapun, ketika sakit sudah sembuh bukan juga karena pengobatan yang diberikan oleh dokter atau perawat, semuanya bersumber dari KuasaNya. Mengatasi masalah (apapun itu) dengan cara emosi tidak akan pernah menyelesaikan masalah.

Related Posts